Bismillah….

BENTURAN PERADABAN?


PENGANTAR

Makalah ini disarikan dari tulisan Samuel P. Huntington, ‘Benturan Peradaban’ dalam buku Amerika dan Dunia. Menurut Huntington, sumber utama konflik di dunia baru bukanlah ideologi atau ekonomi. Budayalah yang akan menjadi faktor pemecah belah umat manusia dan sumber konflik yang dominan. Garis pemisah antara peradaban akan menjelma menjadi garis pertempuran di masa depan. Konflik antar-peradaban akan menjadi tahap terakhir dalam evolusi konflik di dunia modern. Pertanyaannya, kenapa Huntington berhipotesis bahwa peradaban akan saling berbenturan dan menjadi sumber konflik tahap akhir dunia modern? Dan benarkah peradaban akan saling berbenturan? Jawabannya ada dalam pembahasan berikut.

PEMBAHASAN

A. Siapa Huntington?

Image
Samuel Phillips Huntington, lahir di New York pada 18 April 1927,  dan meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Huntington adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat.  Ia adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional, di Weatherhead Center for International Affairs.

Pada bulan Januari 2000, Huntington meletakkan jabatannya sebagai direktur pada Olin Institute. Selama tahun 1999-2000, ia berkerja untuk meneliti berbagai perubahan yang menonjol menyangkut persoalan identitas nasional Amerika dan implikasi-implikasi dari berbagai perubahan ini terhadap peran Amerika di dunia internasional. Setelah itu, ia mengajar matakuliah dalam bidang kajian, dan mata kuliah lainnya dalam bidang perbandingan politik dan politik global pasca Perang Dingin.

Menulis buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order  yang ditulisnya tahun 1998. Isinya memperkirakan terjadinya perbenturan antarbudaya, seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 11 September  (pengeboman menara WTC di New York). Berbekal kerangka buku ini banyak orang melihat perang menumpas terorisme sebagai perbenturan kebudayaan Barat dan Timur, sesuai kerangka pikir yang dituliskan Huntington. Buku ini merupakan karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di berbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.

Bukunya Political Order in Changing Societies yang ditulis tahun 1968, kerap dilihat sebagai cetak biru model demokratisasi yang mementingkan stabilitas. Pemikiran ini antara lain kuat memengaruhi model pembangunan politik di Indonesia dalam era Orde Baru. Bagian lain dari tesis dalam buku itu bahwa bersama perubahan masyarakat tingkat partisipasi harus juga meningkat, yang perlu diperhatikan pula oleh para penyusun strategi politik di lapangan.

Bukunya yang kemudian berjudul Culture Matters: How Values Shape Human Progress, yang disuntingnya bersama Lawrence Harrison, dan telah terbit pada bulan Mei 2000. Buku terakhirnya adalah Who Are We? terbit Mei 2004.  Dalam buku ini terutama Huntington menyoroti identitas Amerika sebagai bangsa pemukim bukan imigran, hal ini berbeda dengan kebanyakan ahli yang melihat Amerika sebagai budaya imigran yang dicangkokkan dari tanah leluhurnya. Para pemukim dalam interaksinya harus membentuk identitas sendiri. Selama tahun-tahun selanjutnya, Huntington tetap memfokuskan dirinya pada persoalan-persoalan identitas nasional, terutama identitas nasional Amerika

B. Analisis Benturan Peradaban Versi Huntington

Selama Perang Dingin dunia terbagi menjadi Dunia Pertama, Dunia Kedua, Dunia Ketiga. Pembagian tersebut tidak lagi relevan. Sekarang ini yang jauh lebih bermakna adalah mengelompokkan negara-negara berdasarkan budaya dan peradabannya. Sebuah peradaban adalah sebuah entitas budaya. Peradaban adalah pengelompokan budaya tertinggi dari sekelompok orang dan identitas budaya paling luas yang dimiliki oleh orang-orang yang membedakan manusia dari makhluk lain. Melalui peradabanlah manusia mengidentifikasi dan mendefinisikan identitasnya, sehingga sering kali komposisi dan batas-batas peradabanpun berubah.

Peradaban dapat meliputi sekelompok besar manusia (seperti halnya Cina), atau hanya sekelompok kecil orang (seperti orang-orang Karibia yang berbahasa Inggris). Dapat mencakup beberapa negara-bangsa (seperti Barat, Amerika Latin, dan Arab), atau hanya satu negara (seperti Jepang). Peradaban tentu saja melebur dan tumpang-tindih, dan bisa mencakup sub-sub peradaban. Peradaban Barat memiliki dua varian besar, Eropa dan Amerika Utara, dan Islam memiliki subdivisi Arab, Turki, dan Melayu. Peradaban juga bersifat dinamis (ada masa naik dan runtuh), serta terbelah dan menyatu.

Image 

Gambar 1: Peradaban-peradaban dunia yang akan saling berbenturan menurut Huntington

1)   Mengapa Peradaban Akan Berbenturan

Dunia masa depan akan di bentuk oleh hubungan timbal-balik antara tujuh atau delapan peradaban besar, seperti; peradaban Barat, Konghucu, Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks-Slaviks, Amerika Latin, dan kemungkinan besar juga peradaban Afrika. Mengapa masing-masing peradaban ini akan berkonflik satu sama lain;

      Pertama, perbedaan di antara peradaban bukan hanya nyata, melainkan juga mendasar. Seperti, perbedaan sejarah, bahasa, kebudayaan, tradisi, dan yang paling penting, agama. Memiliki konsepsi yang berbeda tentang hubungan antara Tuhan dan Manusia, individu dan kelompok, penduduk dan negara, antara hak dan kewajiban, kebebasan dan otoritas, persamaan dan hierarki, dll. Perbedaan ini merupakan produk yang dihasilkan selama berabad-abad, dan jauh lebih mendasar dibanding ideologi politik dan rezim-rezim.

      Kedua, dunia menjadi sebuah tempat yang lebih kecil. Hubungan timbal-balik yang terjadi di antara masyarakat dari peradaban yang berbeda semakin meningkat. Interaksi tersebut meningkatkan kesadaran peradaban, yang pada akhirnya memperkuat perbedaan dan permusuhan yang berakar panjang dalam sejarah.

      Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial diseluruh dunia memisahkan manusia dari identitas lokal yang sudah lama ada. Proses tersebut melemahkan negara bangsa sebagai sumber identitas, dan agama mengisi celahnya. Seperti gerakan fundamentalis, dan kebangkitan kembali agama ‘la revanche de Dieu’ (pembalasan Tuhan).

      Keempat, meningkatnya kesadaran-peradaban diperkuat oleh peran ganda barat. Disatu sisi, Barat sedang berada dipuncak kekuasaan, disaat yang sama fenomena kembali ke akar terjadi dalam peradaban-peradaban non-Barat. Seperti; Asianisasi di Jepang, Hinduinisasi di India, re-Islamisasi Timur Tengah karena kegagalan ide Barat tentang sosialisme dan nasionalisme, perdebatan Rusianisasi dan Westernisasi di Rusia.

      Kelima, karakteristik dan perbedaan budaya tidak mudah dipadamkan,  dikompromikan dan dipecah dibanding perbedaan politik dan ekonomi. Bahkan agama, lebih dari etnisitas, mendiskriminasi manusia secara tajam dan ekslusif. Seseorang bisa setengah Perancis dan setengah Arab, dan bahkan bisa menjadi warga dari dua negara. Lebih sulit menjadi setengah Katholik dan setengah Muslim.

      Terakhir, regionalisme ekonomi yang semakin meningkat. Di satu sisi, regionalisme ekonomi yang sukses akan memperkuat kesadaran peradaban, di sisi lain regionalisme bisa sukses hanya bila berakar dalam satu peradaban yang sama. Jepang menghadapi kesulitan dalam menciptakan entitas ekonomi di Asia Timur, sebaliknya, Cina sangat mudah dalam perluasan relasi ekonomi antara RRC, Hong Kong, Taiwan, Singapura dan Komunitas Cina di negara-negara Asia lain, karena memiliki kesamaan budaya. Budaya dan agama juga menjadi basis dari Organisasi Kerjasama Ekonomi yang menyatukan sepuluh negara Muslim non-Arab. Ketika orang-orang mendifinisikan identitas mereka berdasarkan etnis dan agama, mereka sangat mungkin melihat sebuah hubungan ‘kita’ lawan ‘mereka’.     

Dengan demikian, pertikaian peradaban terjadi dalam dua tingkat. Di tingkat mikro, kelompok-kelompok yang hidup berdampingan disepanjang garis pemisah antara peradaban-peradaban akan bertikai, acapkali brutal untuk memperebutkan kendali wilayah dan kendali satu-sama lain. Di tingkat makro, negara-negara dari peradaban yang berbeda bersaing untuk memperebutkan kekuasaan militer dan ekonomi, bertikai memperebutkan pengawasan atas lembaga internasional dan pihak ketiga, serta bersaing mempromosikan nilai-nilai politik dan keagamaan mereka. 

2)  Garis Pemisah Antar Peradaban

Ketika perang dingin usai, pembagian budaya Eropa antara Kristen Barat dan Kristen Ortodoks serta Islam di sisi lain kembali muncul. Orang-orang yang tinggal di daerah utara dan barat adalah kaum Protestan atau Katholik yang memiliki pengalaman yang sama dalam sejarah Eropa – feodalisme, Renaisans, Reformasi, Pencerahan, Revolusi, dan secara umum ekonomi mereka lebih baik dibanding wilayah timur. Sedangkan masyarakat yang tinggal di wilayah timur dan selatan adalah kaum ortodoks atau Muslim, bagian dari Kekaisaran Ottoman yang hanya sedikit tersentuh peristiwa-peristiwa penting Eropa, umumnya kurang maju secara ekonomi, demokrasi politik yang tidak stabil. Garis ini bukan sekedar garis perbedaan, namun kadang juga merupakan garis konflik berdarah.

Konflik yang terjadi disepanjang garis pemisah antara peradaban Barat dan Islam telah berlangsung selama 1.300 tahun. Setelah munculnya Islam, bangsa Arab dan Moor menyerbu barat dan utara dan berakhir di Tour pada 732 M. Abad 11 – 13, prajurit Perang Salib berusaha mengembalikan kekuasaan Kristen, abad 14 – 17, Kekaisaran Turki Ottoman menguasai Timur Tengah sampai ke Wina, abad 19 – 20, Inggris, Prancis dan Itali mengukuhkan kendali Barat. Setelah PD II, kekaisaran kolonial hilang, nasionalisme Arab dan fundamentalisme Islam muncul. Perang antara Barat dan Arab memuncak pada 1990, ketika AS mengirim pasukan yang besar ke Teluk Persia.

Interaksi militer yang sudah berabad-abad antara Barat dan Islam tidak memperlihatkan gejala melemah, bahkan semakin menegang. Perkembangan sosial dan ekonomi, demokrasi, demografi, pertumbuhan penduduk, migrasi, semakin memperuncing perbedaan keduanya. Di Italia, Perancis, dan Jerman, rasisme semakin terbuka, dan reaksi politik serta kekejaman terhadap imigran Arab dan Turki semakin nyata dan menyebar sejak 1990. Kekerasan juga sering terjadi antara kaum Muslim disatu sisi, dan kaum Serbia Ortodoks di Balkan, Yahudi di Israel, Hindu di India, Budha di Burma, dan Katholik di Filipina. Islam memiliki perbatasan-perbatasan yang berdarah.

3)   Sumber Utama Perbenturan Peradaban

Kelompok-kelompok atau negara-negara yang termasuk dalam sebuah peradaban yang terlibat peperangan dengan peradaban lain cenderung menggalang dukungan dari anggota lain dalam kelompok peradaban yang sama. Meski Irak – Iran adalah rival, tetapi ketika Barat (Amerika) menginvasi Irak, pemimpin agama Iran, Ayatollah Khomeini menyerukan perang suci melawan Barat. Gerakan fundamentalis Islam secara universal mendukung Irak ketimbang pemerintah Kuwait dan Saudi Arabia yang didukung Barat. Juga dukungan Turki terhadap Azerbaijan yang punya kemiripan agama, etnis dan linguistik, menghadapi Armenia (Kristen). Determinasi Paus dalam mendukung Serbia (Katholik) menghadapi Bosnia (Islam) di ikuti oleh Vatikan, Eropa dan Amerika, meskipun yang paling menderita adalah rakyat Bosnia. Pemerintah dan kelompok-kelompok Islam mengkritik Barat karena kegagalan mereka melindungi rakyat Bosnia. Para pemimpin Iran mendesak kaum Muslim di seluruh negara memberikan bantuan bagi Bosnia, termasuk Arab Saudi. Di tahun-tahun mendatang, konflik lokal yang paling mungkin meningkat menjadi perang besar adalah konflik-konflik seperti halnya di Bosnia, yang terjadi disepanjang garis pemisah antar-peradaban. Perang dunia berikutnya, bila ada, adalah perang antara peradaban.

Dibandingkan peradaban lainnya, Barat sekarang berada di puncak kejayaannya. Barat memiliki kekuasaan militer yang tak tertandingi, tidak menghadapi tantangan ekonomi (selain dari Jepang), mendominasi lembaga politik dan keamanan internasional, mendominasi ekonomi internasional. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam Dewan Keamanan PBB atau IMF yang mencerminkan kepentingan Barat disajikan kepada dunia sebagai kepentingan masyarakat dunia. Barat memanfaatkan lembaga, kekuatan militer, dan sumber daya ekonomi internasional untuk mengendalikan dunia dengan cara-cara yang dapat mempertahankan dominasi Barat, melindungi kepentingan Barat, dan mempromosikan nilai-nilai politik dan ekonomi Barat. Respon terhadap Barat  dari negara non-Barat secara umum mengambil satu atau kombinasi dari tiga bentuk; isolasi dan keluar dari komunitas global (Korea Utara dan Burma), harga yang harus dibayar mahal; ‘pendomplengan’ berupaya bergabung dengan Barat dan nilai-nilainya; ‘menyeimbangkan’ menjadi modern tanpa harus menjadi kebarat-baratan.

Negara-negara yang tercabik karena strategi ‘pendomplengan’ yang dilakukan para pemimpin mereka, menjadikan negeri mereka bagian dari Barat, tetapi sejarah, budaya, dan tradisi mereka adalah non-Barat, seperti:

  1. Turki, mendaftarkan diri sebagai komunitas Eropa tetapi masyarakatnya mendukung kebangkitan Islam.
  2. Meksiko, berhenti menegaskan oposisinya terhadap AS dan berusaha meniru AS, meski masyarakatnya berkeras mengatakan Meksiko adalah Amerika Latin.
  3. Rusia, mengimpor ideologi Barat, mengadaptasikannya dengan kondisi Rusia dan kemudian menentang Barat dengan ideologi tersebut.

Secara historis Turki adalah negeri yang paling tercabik. Bagi Amerika Serikat, Meksiko adalah negeri yang segera tercabik. Secara global, negeri terpenting yang tercabik-cabik adalah Rusia.

Hambatan bagi negara-negara non-Barat untuk bergabung dengan Barat sangat beragam. Terutama bagi negara Muslim, Konghucu, Hindu dan Budha. Akan tetapi Jepang mengembangkan posisi yang unik sebagai anggota asosiasi Barat: ia ada di Barat dalam segala hal, tetapi sudah jelas bukan Barat dalam dimensi yang lebih penting. Negeri yang tidak bisa bergabung dengan Barat dengan alasan budaya dan kekuasaan, bersaing dengan Barat dan mengembangkan ekonomi, militer dan kekuasaan politik mereka. Juga melakukan kerjasama dengan negeri-negeri yang non-Barat lainnya, yang paling mencolok adalah kerjasama Konghucu-Islam (Cina, Korea Utara, dan beberapa negara Timur Tengah). Hubungan ini dirancang untuk mendorong kemampuan negara-negara anggotanya atas persenjataan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadapi militer Barat.

KONKLUSI

Tidaklah begitu mengherankan sebenarnya, kenapa Huntington menulis buku ‘Perbenturan Peradaban’ ini, jika dilihat dari siapa Huntington. Ia pada awalnya  terkenal karena merupakan salah satu penasihat presiden AS, Lyndon B. Johnson dalam Perang Vietnam, termasuk penggunaan gas Napalm dan metode – metode lain untuk membunuh para Vietkong. Tetapi tentu saja tidak hanya Vietkong yang mati, rakyat biasa, anak-anak dan perempuan ikut menjadi korban pembantaian tersebut. Huntington adalah orang yang ikut ‘bertanggung jawab’ atas kematian lebih dari lima juta rakyat Vietnam, Kamboja dan Laos.

Sebagai seorang yang ikut andil dalam berbagai kebijakan luar negeri Amerika, Huntington tentunya berupaya keras menyediakan landasan “teologis“ mengapa Amerika “harus“ menyerbu Irak. Tidak lebih dari mencari alasan ‘pembenaran’ atas semua kebijakan-kebijakan Amerika.  Dengan karya Huntington ini si Bapak-Anak Bush dkk, yang mungkin menganggap diri mereka semacam kristus masa kini dengan berusaha mengalahkan negara – negara anti-kristus macam Irak, Iran, Islam, Cina dan Rusia. Banyak ahli menganggap karya Samuel ini tendensius, pengingkaran dan penyangkalan historis (ahistoris), mengada-ada, terlalu primordial, tentu saja sangat naif. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan bervarian, pemikiran Samuel justru terlempar jauh ke belakang seribu tahun.

Meskipun Huntington menyanggah bahwa hipotesis-hipotesisnya tentang perbenturan peradaban bukan untuk menimbulkan konflik, tetapi secara gamblang ia menuduh Islam ataupun Konghucu sebagai sumber dari perbenturan yang akan mengusik kejayaan peradaban Barat. Agaknya Huntington lupa peranan  biosfer, seperti yang dikatakan Toynbee, dalam menjaga keseimbangannya. Alam memiliki kekuatan-kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibanding teknologi secanggih apapun yang diciptakan oleh manusia. Betapa banyak peradaban-peradaban besar terdahulu yang hancur karena bencana alam ketika berada dipuncak kejayaannya. Benarkah perbenturan peradaban akan terjadi? Belum pasti, tetapi kemungkinan peradaban Barat yang berada dipuncak kejayaannya akan hancur dengan sendirinya karena ‘perlawanan’ biosfer, itu mungkin saja terjadi.

                                                                                                                                  Wallahualam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: