Bismillah….

PUDARNYA PESONA KARTINI


Berbagai kontroversi tentang kepahlawanan Kartini berkembang secara teratur, umumnya pada masyarakat intelektual Indonesia yang berasal dari luar pulau Jawa mulai meragukan sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Kartini digugat karena dianggap ada tiga hal yang menjadi kesalahan fatalnya sebagai pejuang hak perempuan; Pertama, mau  dimadu. Kartini adalah anak zamannya, dimana kaum perempuan seolah-olah ditakdirkan sebagai manusia yang tak utuh, zaman ketika kaum feodal memegang teguh hierarki manusia berdasarkan derajat keturunan dan poligami dipandang sebagai hal yang sangat wajar; Kedua, keaslian dari isi surat-suratnya. Logikanya mana mungkin anak yang baru berusia empat belas tahun memiliki pemikiran yang begitu kritis, apalagi Kartini ada ketika kaum penjajah dan feodal tak peduli bagaimana beras dihasilkan, bagaimana Bumi dibalik oleh mata bajak dan bagaimana manusia dan hewan telah bekerja untuk musuhnya

Namun, dibalik dipuja dan digugatnya Kartini, bagaimana kita menempatkan Kartini tidak hanya sebagai ritual tahunan yang harus diisi dengan berbagai macam kegiatan yang pada hakekatnya sama sekali tidak relevan dengan pemikiran-pemikiran ‘sang pahlawan’. Tapi juga mengkaji seluruh karyanya yaitu catatan-catatan yang menyumbang data sejarah perempuan yang hidup dimasa feodalisme dan kolonialisme yang selama ini luput dari penghargaan kita.

Benar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannnya, tapi bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu belajar dari sejarahnya sendiri, bangsa yang mampu mempelajari karya-karya dan pemikiran-pemikiran pahlawannya.

Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, adalah seorang anak perempuan yang hidup dalam kungkungan aturan-aturan keraton yang sangat feodal, sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya. Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku dimana setelah seorang perempuan menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan perempuan seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang perempuan di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya perempuan sebangsanya bila dibandingkan dengan perempuan bangsa lain terutama perempuan Eropa. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan perempuan negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum perempuan dan laki-laki. Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali. Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai tingkat kedewasaan berpikir nasional jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan sezamannya.

Tentang pernikahannya, kenapa Kartini mau dimadu adalah karena kehidupan semacam “harem” di kadipaten seperti itu adalah hal yang sangat wajar, poligami dianggap sebagai pelengkap kebesaran kaum ningrat. Meskipun dia menentangnya seperti tercetus dalam surat-suratnya, namun dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan sebuah sistem feodal yang sangat kuat.

Bahwa Kartini adalah seorang perempuan yang hebat, itu tak usah kita ragukan lagi. Bahwa surat-suratnya penuh dengan informasi penting pada zaman itu, tak mungkin kita pungkiri. Bahwa buah pikirannya yang tertuang dalam surat-suratnya menjadi inspirasi banyak tokoh pergerakan kemerdekaan kita, adalah hal yang banyak diakui orang. Hal yang jadi permasalahan sekarang adalah, apakah cukup hanya dengan itu dia bisa menyandang gelar Pahlawan. Kita tentu tahu bahwa kriteria seorang pahlawan sangat tergantung pada rezim apa yang berkuasa.

Kartini tidak konsisten dalam memperjuangkan pemikiran akan nasib perempuan Jawa. Dalam banyak tulisannya selalu mempertanyakan tradisi Jawa (dan agama Islam) yang dianggap menghambat kemajuan perempuan dan mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Lagi pula Kartini dari surat-suratnya yang masih diragukan kebenarannya  itu hanya berbicara untuk ruang lingkup Jawa saja, tak pernah menyinggung suku atau bangsa lain di Indonesia/Hindia Belanda. Tak pernah terlihat dalam tulisan dan pemikirannya adanya keinginan Kartini untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda saat itu, apalagi membopong senjata sebagaimana Pahlawan Perempuan lainnya. Memang, kriteria seorang Pahlawan tidak hanya dilihat dari kemampuannya memanggul senjata melawan kolonial saja, dan lagi pula Kartini dalam upaya pencerahan dalam bidang pendidikan tidak berperan apa-apa, selain hanya bergumul pada pikiran-pikiran yang tak pernah dia wujudkan. Penetapan tanggal kelahirannya 21 April sebagai hari besar terkesan terlalu melebih-lebihkan sosoknya, sementara masih ada Pahlawan Perempuan lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Maka, disini penulis menyimpulkan bahwa, kepahlawanan seorang Kartini perlu dikaji ulang.

Dari berbagai sumber

Hera HM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: