Bismillah….


Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia atau philosophos yang bermakna ‘pecinta kebenaran’ untuk pertamakalinya dalam sejarah digunakan oleh Pythagoras abad ke VI SM. Dalam MADILOG [Materialisme Dialektika Logika] Tan Malaka mengungkapkan sebelum masuk dalam dunia filsafat kita harus lebih dahulu memisahkan arah-pikiran para ahli filsafat karena menurut Tan Malaka para ahli filsafat sering berfilsafat menurut logikanya saja, tak ada pangkal dan tak ada ujungnya sehingga sulit memisahkan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam mengkaji filsafat, Tan Malaka memakai Friederich Engels (1820-1895) sebagai penunjuk jalan. Dalam aliran filsafat Engels menganut aliran materialisme dan naturalisme. Aliran ini berpendapat, bahwa hakikat dunia ialah materi, materialisme mangkaji alam dari segi kebendaan dan hukum-hukum yang menguasainya sangat menarik, karena strukturnya sederhana dan bertitik tolak dari benda-benda yang nyata yang dapat diamati. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dunia tidak mempunyai makna apa-apa, tidak mempunyai tujuan apapun, melainkan suatu gerakan oleh tenaga-tenaga fisik dan hukum-hukum alam. Mula-mula ada ‘tesis’, suatu pendapat kemudian ada pendapat lain yang menentang sebagai ‘anti-tesis’. Dari pernyataan yang berlainan itu timbul jawaban yang baru, yang lebih benar dari tesis yang disebut ‘sintesis’. Tetapi sintesis ini merupakan tesis yang baru, yang tentu dapat disangsikan kebenarannya oleh suatu anti-tesis yang baru, dan seterusnya tak habis-habis menuju kebenaran yang tinggi.

Sistem berfikir dialektik ini juga dipergunakan oleh Karl Marx (1818-1883) yang kemudian menjadi filsafat Marxisme sebagai filsafat resmi Negara Soviet Rusia dulu (disini penulis berpendapat inilah yang melatar belakangi Tan Malaka berhaluan komunis dalam system politiknya dan ini tergambar dari taktik perjuangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia). Engels sebagai co-creator mendalami paham Dialektis Materialisme dan Komunis dalam dua aliran yaitu, kaum idealis yang memihak pada kaum borjuis dan penguasa dan kaum materialis yang berfihak pada proletar dan kaum tertindas. Namun Baruch Spinoza (1632-1677) penganut aliran rasionalisme dalam filsafat mengkombinasikan antara idealisme dan materialisme dalam perjuangan proletar dan kapitalis dalam politik. Kadang materialisme didalamnya dan idealisme diluarnya tapi terkadang materialisme diluarnya dan idealisme didalamnya.

Idealis dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran dalam memisahkan benda atau fikiran, matter atau idea. Yang menyatakan fikiran adalah pengikut idealis dan matter, benda lebih dahulu, baru fikiran ialah pengikut meterialis. Variasi lain dari meterialisme yaitu ‘naturalisme humanistis’. Disini manusia dianggap telah mengalami evolusi dari keadaan benda meteriil dan zat anorganis, telah menjadi makhluk yang mempunyai kesadaran yang mampu mengurus dirinya sendiri, bertanggung jawab atas usahanya sendiri. Pusatnya adalah manusia itu sendiri.

David Hume (1711-1776) sebagai ahli filsafat idealis meneruskan tradisi empirisme, Hume berpendapat bahwa ide-ide yang sederhana adalah salinan dan sensasi-sensasi sederhana atau ide-ide yang kompleks dari kombinasi ide-ide sederhana atau dari kesan-kesan yang kompleks. Untuk mengetahui apakah benda yang bernama jeruk. Hume menjabarkan; rasanya yang manis, kulitnya yang licin, beratnya yang 1/3 atau 1/4 kg, warna yang hijau atau kuning, bunyi yang nyaring atau lembek. Bunyi itu ada ditelinga, dalam badan Hume bukan pada jeruk, beratnya ditangan bukan pada jeruk, bentuk rupanya pada mata, dan rasanya ada dilidah Hume. Semuanya melalui perantara saraf yang di stimulasikan ke otak.

Namun disini penulis berasumsi dan mengkomparasikannya dalam bentuk lain, kita ambil contoh pada rasa manis yang identik dengan gula. Sebenarnya rasa manis itu ada pada gula atau ada pada lidah. Kalau kita asumsikan rasa manis itu ada pada gula bukankah sebelum dikecap gula itu tidak berasa apa-apa (tawar) dan kalau rasa manis itu ada pada lidah, lalu bagaimana dengan lidah yang tidak memiliki saraf sensorik dalam menerjemahkan rasa manis. Kalau begitu rasa manis itu ada pada lidah atau gula? Logikanya saat kita mengecap gula baru terasa manis maka rasa manis itu terletak pada saat lidah dan gula bersentuhan. Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengakui ide saja, membatalkan dirinya sendiri, mengakui bahwa sebetulnya dia tak ada. Inilah dampak yang konsekwen dari idealisme, dengan membatalkan benda maka ia membatalkan dirinya sendiri dan ironisnya sebenarnya Hume malah membatalkan filsafat idealisme itu sendiri.

Emanuel Kant (1724-1804) mengangkat idealisme Hume kembali, tapi dalam bentuk aliran kritisisme dalam filsafat. Aliran ini menyatakan bahwa bahan-bahan pengatahuan dari empiris yang meliputi indra dan pengalaman. Kemudian akal menempatkan, mengatur dan menertibkan dalam bentuk-bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengatahuan, sedangkan pengolahan akal merupakan pembentuknya. Kant mensintesiskan antara rasionalisme dan empirisme dalam kritik rasio murni dan membedakan dalam tiga (3) macam pengetahuan yaitu, analitis, sintesis a-posteriori dan sintesis a-priori. Kant sepenuhnya tidak memihak pada Hume, dia memakai  teori Ding an Sich yang memaknai benda itu tidak ada yang ada hanya gambaran dalam otaknya. Ding an Sich dijawab hegel dengan Ding Fur Uns, benda yang tidak diketahui dalam keseharian sebenarnya sudah menjadi benda kita. Idealis yang lebih jitu, ialah Hegel memakai Dialektika dan Logika dengan cara dan bahasa yang berbeda. Dengan dua sayap, tesis di kanan, anti thesis di kiri dan badan syntesis di tengah. Bagi Hegel ‘absolut Idee’ ialah membuat benda ‘realitat’, ‘Die absolute Idee macht die Geschichte’. Absolute Idee yang membuat sejarah membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membuat sejarah, melainkan absolute Idee yang tergambar nyata dalam filsafat ‘deren nachdrucklichen Ausdruck, die Philosophi ist’. Jadi menurut Hegel sejarah ialah sejarah dunia dan masyarakat dibikin absolute Idee dan hal ini tergambar dalam filsafat.

Jauh sebelumnya Plato (428-348 SM) penganut aliran Idealisme, suatu aliran filafat metafisika yang berpendapat, bahwa hakikat dunia dan kenyataan itu adalah ide, yang sifatnya rohani atau intelegensi. Dunia yang tampak sekarang ini hanya ‘maya’  atau bayangan dan impian belaka. Apa yang tampak sebagai dunia nyata itu sebenarnya adalah ekspresi dari pad roh dalam bentuk yang berwujud yang dapat diamati oleh alat indra. Dunia pada hakikatnya adalah dunia ide, dan dunia gejala itu hanya bayangan saja dari dunia hakiki itu, dunia duniawi adalah dunia yang tidak sempurna. Demikianlah sesuai dengan perjuangan kelas, idealisme ber-dialektika dan tak berdialektika, membentuk dirinya supaya cocok dengan keadaan kelas yang memegangnya.

Arah aliran filsafat terus berkembang, di Amerika dimana kapitalisme masih muda maka lahirlah idelisme berupa pragmatisme yang dikemukan oleh John Dewey (1859-1952), menurut Dewey pengalaman adalah interaksi antara lingkungan dan organisme biologis. Kegiatan berfikir timbul disebabkan terjadinya gangguan terhadap situasi, bahwa berfikir, khususnya berfikir ilmiah, merupakan alat untuk memecahkan masalah. Dengan pragmatisme, Dewey menerapkannya dalam proses pendidikan. Ia mengembangkan program metode problem solving atau metode memecahkan masalah. Pragmatisme memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan budaya Amerika sampai sekarang.

Disebelah barat Eropa, idealisme masih sangat berkuasa. Idealisme barat mendapat bentuk baru  dan pakaian baru, ialah anarkisme palsu dari ahli filsafat Bergson dan syndikalisme dari Serel. Anarkisme semakin berkembang dan besar oleh Nietsche (siapa kuat dia yang jadi raja, Ubermensch) inilah yang dipeluk oleh Adolf Hitler dan Nazi. Filsafat facisme dianjurkan oleh Giovani Gentile. Facisme bukanlah new system  dalam tata filsafat baru, melainkan aksi baru dan paham baru. Aksi kaum tengah dan paham kaum tengah terhadap proletar dengan pertolongan kapitalis, memang baru dalam perjuangan proletar. Perjuangan klas tertutup dan terbuka, inilah arti filsafat yang sebenarnya. Ia boleh melayang tinggi seperti Hegel dan tinggal ditanah, di perut seperti dialektis materialisme, tetapi filsafat itu adalah bayangan masyarakat yang bertentangan, bukan bayangan absolute Idee seperti kata Hegel. Filafat bertukar, artinya bertukar rupa dan pecah belah menjadi beberapa ilmu yang berdasarkan eksperimen. Engels menyimpulkan bahwa filsafat ialah Dialektika dan Logika. Dan cabang-cabang yang lainnya jatuh pada Ilmu Alam dan Sejarah, sejarah masyarakat manusia.

Kita kembali pada sosok Tan Malaka tentang kajian Filsafat nya dalam MADILOG. Sepertinya dengan menggunakan teori Hegel, Tan Malaka berhasil merumuskan sebuah formal dialektis. Yakni Indonesia Asli sebagai tesis, Hindia-Belanda sebagai anti-tesis dan Indonesia merdeka dan sosialis sebagai sintesis. Raison d’etre dari dialektika tersebut adalah masalah rasionalitas dan dinamisme sejarah.

Namun satu hal yang menjadi pertanyan bagi penulis disini (MADILOG) adalah berbicara soal filsafat,Tan Malaka sedikit pun tidak menyinggung tentang Filsafat Islam yang menyesuaikan antara apa yang dinamakan wahyu dan akal, antara akidah dan hikmah, antara agama dan filsafat sehingga dapat dinyatakan kepada manusia bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal dan akidah bila ia disinari dengan hikmah akan memberi ketenangan jiwa. Dan manakala agama bersaudara dengan filsafat maka agama itu berjiwa filsafat dan filsafat itu berjiwa manusia, tokoh-tokoh filsafat islam yang terkenal adalah pada masa khalifah Daulat Abbasiyah abad IX, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd. Disinilah kealpaan dari Tan Malaka dalam memadukan agama dan filsafat barat (Hegel) yang dianutnya.

Lebih jauh kita meninjau Tan Malaka dalam MADILOG yang ditulis pada masa ‘rantau’-nya (di dalam diri Tan Malaka, ‘rantau’ dan ‘alam’ saling berlomba dan pada saatnya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ‘rantau’ tertelan oleh ‘alam’), dilihat sebagai teks, mempersoalkan suatu kekuatan sejarah besar ‘kritisisme’ manusia Indonesia yang masih harus dikembangkan untuk mempengaruhi dunia pada saat kondisi eksternal masyarakat Indonesia sedang terpengaruh perkembangan kapitalisme dunia. Oleh karenanya menurut Tan Malaka, motor penggerak sejarah adalah pikiran rasional (akal) lebih utama dari pada perjuangan kelas. Sejarah harus harus baik, berjalan dengan baik dengan tujuan penyempurnaan masyarakat. Harapan Tan Malaka disini jelas menggambarkan harapannya sebagai orang Minangkabau atau sebagai seorang revolusioner. Sebuah pernyataan yang tidak menolak realitas kesejarahan. Akan tetapi apa yang diharapkannya itu sebenarnya Tan Malaka terlampau menekankan sebuah realitas yang sangat spesifik dan pada kenyataan justru menggambarkan provinsialisme intelektualnya.

MADILOG, sebuah karya filsafat panjang yang ditulis Tan Malaka 1942-1943 adalah pandangan Tan Malaka sendiri, karya puncaknya, harta yang paling lengkap dan paling menyeluruh membahas filsafatnya. Cara berfikir MADILOG diajukan oleh Tan Malaka sebagai senjata untuk melawan apa yang ia kategorikan sebagai cara berfikir ketimuran yang kuno, penuh mistik dan idealistic yang masih dominan, tak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia.

Dasar filsafat dalam MADILOG yang pertama adalah materialisme. Materialisme yang digunakan disini berbeda dengan yang di barat yang dasar aksiomanya tidak cocok diterapkan. Perhatian utama Tan Malaka selain terhadap alam adalah terhadap jiwa, semangat, energi dan vitalitas. Ia menilai animisme, yang menurutnya adalah landasan kepercayaan terhadap jiwa. Berbeda dengan materialisme barat, materialisme MADILOG muncul sebagai citra kosmocentrisme dan idealisme negative. Dengan demikian materialisme Tan Malaka adalah semacam realisme dan pragmatisme antropocentris, fokusnya pada manusia yang secara rasional menggunakan lingkungannya. Cara materialisme yang dipakainya adalah ‘mencari jawaban berdasarkan sejumlah bukti yang telah di uji dan diketahui’.

Junjung Sirih, 2010

_ketika ruang persegi semakin mengakrabi.

Sumber:

♠   Bertens, K, Sejarah Filsafat Yunani. 1999. Yogyakarta; Kanisius.

♠   E. Tamburaka, Rustam, Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan IPTEK. 1999. Jakarta; Rineka Cipta.

♠   Malaka,Tan, MADILOG (Materialisme Dialektika Logika). 1951. Jakarta; Widjaya.

♠   Mrazeck, Rudolf, Tan Malaka.1999. Yogyakarta; Bigraf Publishing.

♠   Salam, Burhanudin, Logika Formal (Filsafat Berfikir). 1988. Jakarta; Bina Aksara.

Comments on: "MENELUSURI FILSAFAT BERFIKIR TAN MALAKA" (2)

  1. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    “Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia atau philosophos yang bermakna ‘pecinta kebenaran’ untuk pertamakalinya dalam sejarah digunakan oleh Pythagoras abad ke VI SM”

  2. Dhestyandra said:

    Great…!
    moga ilmu nya bermanfaat… amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: