Bismillah….


Sejarah bukan daftar mati fakta-fakta, seperti yang dibayangkan orang selama ini. Sejarah adalah serangkaian peristiwa yang melibatkan manusia dan keinginannya secara berkesinambungan. Sejarah mengandung banyak tekstur dan nilai kehidupan. Sam Wineburg PENDAHULUAN Ketika saya pertama kali masuk dalam perkuliahan semester satu pada tahun 2005 di Pendidikan Sejarah UNP, di kelasnya Bapak Alwir Darwis. Saya mengajukan pertanyaan kepada beliau “Pak, mengapa kita harus belajar sejarah? Kenapa di tingkat universitas sejarah bisa menjadi sebuah jurusan? Mengapa masa lalu itu harus dibahas lagi dimasa sekarang? Toh kita tidak akan pernah bisa mengubahnya!” pertanyaan ini saya ajukan berlandaskan atas ketidaksukaan saya (dulu) pada sejarah. Seisi kelas hening, begitupun juga Bapak Alwir Darwis dengan tatapan diam mengarah pada saya. Kemudian dengan tenang beliau menjawab “dari tadi pagi, perut saya yang disebelah kiri ini sakit, saya sudah minum obat, tapi tidak ada reaksinya. Mendengar pertanyaan saudara, entah kenapa sakit perut saya jadi hilang. Saya tidak akan menjawab pertanyaan saudara, karena saya tahu saudara tidak akan pernah puas, maka untuk itu saudara harus menjawabnya sendiri, minggu depan saya akan menagih jawabannya dari saudara”. Bapak Alwir kemudian tersenyum, dan melanjutkan perkuliahan dengan tenang. Berangkat dari pengalaman ini lah saya mencoba menguraikan, “mengapa kita harus belajar sejarah?” PEMBAHASAN Sejarah dianggap sebagai bagian dari humaniora, salah satu dari ilmu pengetahuan yang konon mengajarkan pada kita bahwa kita hendaknya menghindari slogan, menghargai keanekaragaman dan mencintai nuansa. Selama ini sejarah banyak terfokus pada sejarah perang, sejarah pemenang perang maupun sejarah pihak yang kalah perang, atau paduan dari keduanya. Sehingga kita melupakan pertanyaan yang lebih mendasar, apa manfaat sejarah? mengapa sejarah perlu diajarkan di sekolah? Secara singkat, pertanyaan ini bisa saya jawab dengan; sejarah memiliki potensi (yang belum terwujud di negeri ini) untuk menjadikan kita manusia yang berperikemanusiaan, hal yang tidak dapat dilakukan oleh semua mata pelajaran yang lain dalam kurikulum sekolah. Saya pikir, setiap generasi harus mengajukan pertanyaan mengapa penting mempelajari masa lalu, dan mengingatkan dirinya sendiri, mengapa sejarah dapat mempersatukan kita dan bukan memecah-belah kita seperti kita saksikan akhir-akhir ini di negeri ini. Ketika kita menyorot pendidikan di Indonesia secara umum, maka ide cemerlangnya sudah ditulis secara jelas dalam pasal 3 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi hakikat pendidikan itu sendiri jika diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis, memiliki tiga komponen arti yang sangat penting: 1) cerdas, 2) hidup, dan 3) bangsa. (1)      Tentang cerdas Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hafal seluruh mata pelajaran, tetapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya. (2)      Tentang hidup Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati ketika dengan santainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup. (3) Tentang bangsa Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Miris melihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperti pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming: lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki Hajar Dewantara mungkin bakal menangis melihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya. Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja “buruh”. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Oleh karena pola pikir “buruh” lah, segala macam hafalan dijejalkan kepada anak murid, dan semuanya hanya demi satu kata, IJAZAH! Benda yang konon katanya menjadi ujung tombak untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral. Maka di sinilah pengajaran sejarah memainkan perannya dalam pendidikan. A. Belajar Dari Masa Lalu Masa lalu yang kita kenal menggoda kita dengan janji bahwa kita dapat menentukan tempat kita di dalam arus waktu dan memperkokoh identitas kita pada masa kini. Dengan mengisi kisah-kisah tentang diri kita ke kisah-kisah yang akan kita alami dimasa mendatang, masa lalu menjadi sebuah sumber yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, sebuah lumbung bahan-bahan mentah yang tidak akan pernah habis untuk ditempa atau dibentuk guna memenuhi berbagai kebutuhan kita pada zaman sekarang. Menempatkan diri kita sendiri di dalam arus waktu termasuk salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika ini tidak kita lakukan, tidak akan mungkin kita dapat membayangkan dalam pikiran kehidupan kita di bumi ini. Hal ini adalah salah satu manfaat sejarah yang paling besar yang bisa dirasakan oleh umat manusia, namun hanya sedikit yang mampu menyadarinya. Masa lalu dapat memperluas cakrawala pemikiran kita dalam arti yang terbaik. Namun, jika digunakan secara ekstrem, pendekatan ini dapat menimbulkan berbagai masalahnya sendiri. Karena masa lalu itu asing dan sulit ditembus, yang kebanyakan orang tidak tahu cara memanfaatkannya. Untuk mewujudkan sepenuhnya kemampuan sejarah memanusiakan manusia, Carl Degler mengungkapkan “untuk memperluas konsep dan pemahaman kita mengenai apa yang artinya menjadi manusia”, kita perlu bertemu muka dengna masa lalu, masa lalu yang tidak terlalu jauh dari kita dari sisi waktu, tetapi jauh dari sisi cara berpikir dan tatanan sosial. Masa lalu yang pada awalnya membuat pikiran kita penuh teka-teki, atau lebih parahnya lagi, membosankan. Sangat kita perlukan jika kita ingin memahami bahwa diri kita masing-masing lebih dari sekedar sejumlah label yang melekat pada diri kita semenjak lahir. Pertemuan terus-menerus dengan masa lalu, mengajarkan pada kita berbagai batas-batas kehidupan kita yang singkat di bumi ini, dan memungkinkan kita untuk menjadi bagian dari seluruh umat manusia. Makna masa lalu (sejarah) terkadang bisa kita tangkap dari ketidak sukaan kita terhadapnya. B. Mengajarkan Masa Lalu Akhir-akhir ini penelitian tentang mengajar dan belajar sejarah ditandai  oleh aneka ragam penelitian yang mencerminkan kekuatan pendekatan kognitif. Dalam beberapa bidang, sejarah bukanlah penerima manfaat dari temuan-temuan yang dihasilkan dari penelitian lain tentang mata pelajaran lain. Tetapi tempat berbagai pelajaran yang dapat dipetik yang kemudian berbiak dan berakar. Sejarah menawarkan lumbung yang kompleks sebagai jalan penerang dalam menghadapi masalah-masalah yang kita jumpai sehari-hari dalam dunia sosial. Untuk menyelidiki persoalan-persoalan ini dibutuhkan ketajaman interpretasi yang lebih dari sekedar kemampuan ‘mencari informasi di dalam teks’ yang sangat mendominasi kegiatan belajar disekolah. Memahami bagaimana murid mengatasi kompleksitas ini dan bagaimana guru membantunya dalam melakukannya. Tidak saja menghasilkan landasan pengetahuan untuk memperbaiki sejarah sekolah tetapi juga melahirkan solusi-solusi dalam memahami bacaan. Jika kita tinjau lebih jauh, kesukaran dalam mengajarkan sejarah ini tidak dapat dimungkiri, karena dalam dunia  sejarah juga terdapat dua aliran, yaitu sejarah konvensional, dan sejarah kritis-analisis.  Sejarah konvensional lebih mengutamakan  cerita atau peristiwa masa lampau, sehingga pelajaran masa lampau itu berguna untuk mengetahui kejadian-kejadian masa lampau.  Kegiatan pengajaran lebih diutamakan penguasaan materi masa lampau dengan melakukan pengingatan. Sedangkan sejarah kritis-analisis lebih mengutamakan kepada pembentukan berpikir kritis dengan menggunakan analisis – analisis konsep ilmu lain. Tujuan utama pengajaran bukan untuk menguasai masa lampau tetapi untuk dapat memahami kejadian masa lampau tersebut ditinjau dari berbagai disiplin ilmu serta dapat dipakaikan dalam tiga dimensi waktu; masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Perkembangan teknologi seperti hypermedia dan pangkalan data dalam komputer telah membuka berbagai kemungkinan dalam pengajaran sejarah yang tidak dapat dibanyangkan pada masa lalu. Berbagai tindakan dapat kita jalankan untuk memanfaatkan tekologi dalam meningkatkan pemahaman murid pada sejarah. Semoga akhirnya sejarah menjadi tempat bagi perkembangan baru dalam penilaian murid dan guru, dan akan tetap menjadi lahan pengembangan yang kaya pada masa yang akan datang. KESIMPULAN Sebuah paragraf menarik yang ingin saya kutip dari Prof. Sam Wineburg untuk mengakhiri tulisan sederhana ini, yaitu: “Pertemuan kita dengan sejarah menawarkan kepada kita sebuah pilihan: belajar tentang badak atau belajar tentang unicorn. Kita tentu saja lebih condong untuk belajar tentang unicorn, binatang yang lebih cantik dan lebih jinak. Tetapi dari badaklah kita dapat memetik pelajaran lebih banyak, jauh lebih banyak daripada yang dapat kita bayangkan”. Semoga sebagai seorang manusia akademisi sejarah kita mampu belajar dan mengajarkan sejarah untuk menciptakan generasi yang cerdas, tidak hanya dalam intelektualnya tetapi juga dalam spiritual dan sosialnya.

Junjung Sirih, 2010

Hera Hastuti HM

Daftar bacaan: F.R. Ankersmit.1987. Refleksi Tentang Sejarah; Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. Jakarta: Gramedia Imran Manan. 1984. Dasar-dasar Sosial Budaya Pendidikan. Jakarta: Dinas Pendidikan. Louis Gottschalk. 1969. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press. Sam Wineburg. 2006. Berpikir Historis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Comments on: "MENGAPA HARUS BELAJAR SEJARAH?" (3)

  1. SINTING. Sejarah itu Penting😛
    Tapi saya masih menyimpan tanda tanya, sebelum kita belajar dari masa lalu; sejarah yang kita pelajari, sejauh mana kebenarannya? Bagaimana kita bisa tahu satu sejarah tidak ada distorsi sama sekali?
    Klo ada waktu, silakan dicek:
    http://bindulka.multiply.com/journal/item/53

  2. JASMERAH ya sob. jadi inget masa awal2 kita kuliah dulu,,, Sejarah emang harus di pelajari n di perhatikan sebab masa lalu begitu banyak memberi makna n pelajaran bagi manusia di masa sekarang.. sayang nya bangsa ini sekarang seolah2 melupakan sejarah masa lalu nya,.. ^_^

    • Yups sur… ra juga kangen kita kumpul2 lg, kangen kul bareng lg..Sejarah 05 adalah ‘rumah ilmu’ terbaik bagi ra…
      dan tugas kitalah sebagai generasi penerus utk ‘hidup dan menghidupkan’ sejarah, Allahuakbar… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: