Bismillah….

Contoh soal PHBS


Beberapa contoh soal tugas materi sejarah matkul PHBS Januari-Juni 2015 Jurusan Sejarah FIS-UNP

Perhatikan penggunaan bahasa soal dan struktur pilihan jawaban

Contoh Soal SP

Soal


Rancangan judul proposal matkul metode penelitian pendidikan kelas C (JUMAT)

Rencana Proposal JMT


Rancangan Judul Proposal Matkul Metode Penelitian Pendidikan

Kelas A (Kamis, 7.00 – 9.40 WIB)

RANCANGAN JUDUL PROPOSAL

BENTURAN PERADABAN?


PENGANTAR

Makalah ini disarikan dari tulisan Samuel P. Huntington, ‘Benturan Peradaban’ dalam buku Amerika dan Dunia. Menurut Huntington, sumber utama konflik di dunia baru bukanlah ideologi atau ekonomi. Budayalah yang akan menjadi faktor pemecah belah umat manusia dan sumber konflik yang dominan. Garis pemisah antara peradaban akan menjelma menjadi garis pertempuran di masa depan. Konflik antar-peradaban akan menjadi tahap terakhir dalam evolusi konflik di dunia modern. Pertanyaannya, kenapa Huntington berhipotesis bahwa peradaban akan saling berbenturan dan menjadi sumber konflik tahap akhir dunia modern? Dan benarkah peradaban akan saling berbenturan? Jawabannya ada dalam pembahasan berikut.

PEMBAHASAN

A. Siapa Huntington?

Image
Samuel Phillips Huntington, lahir di New York pada 18 April 1927,  dan meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Huntington adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat.  Ia adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional, di Weatherhead Center for International Affairs.

Pada bulan Januari 2000, Huntington meletakkan jabatannya sebagai direktur pada Olin Institute. Selama tahun 1999-2000, ia berkerja untuk meneliti berbagai perubahan yang menonjol menyangkut persoalan identitas nasional Amerika dan implikasi-implikasi dari berbagai perubahan ini terhadap peran Amerika di dunia internasional. Setelah itu, ia mengajar matakuliah dalam bidang kajian, dan mata kuliah lainnya dalam bidang perbandingan politik dan politik global pasca Perang Dingin.

Menulis buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order  yang ditulisnya tahun 1998. Isinya memperkirakan terjadinya perbenturan antarbudaya, seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 11 September  (pengeboman menara WTC di New York). Berbekal kerangka buku ini banyak orang melihat perang menumpas terorisme sebagai perbenturan kebudayaan Barat dan Timur, sesuai kerangka pikir yang dituliskan Huntington. Buku ini merupakan karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di berbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.

Bukunya Political Order in Changing Societies yang ditulis tahun 1968, kerap dilihat sebagai cetak biru model demokratisasi yang mementingkan stabilitas. Pemikiran ini antara lain kuat memengaruhi model pembangunan politik di Indonesia dalam era Orde Baru. Bagian lain dari tesis dalam buku itu bahwa bersama perubahan masyarakat tingkat partisipasi harus juga meningkat, yang perlu diperhatikan pula oleh para penyusun strategi politik di lapangan.

Bukunya yang kemudian berjudul Culture Matters: How Values Shape Human Progress, yang disuntingnya bersama Lawrence Harrison, dan telah terbit pada bulan Mei 2000. Buku terakhirnya adalah Who Are We? terbit Mei 2004.  Dalam buku ini terutama Huntington menyoroti identitas Amerika sebagai bangsa pemukim bukan imigran, hal ini berbeda dengan kebanyakan ahli yang melihat Amerika sebagai budaya imigran yang dicangkokkan dari tanah leluhurnya. Para pemukim dalam interaksinya harus membentuk identitas sendiri. Selama tahun-tahun selanjutnya, Huntington tetap memfokuskan dirinya pada persoalan-persoalan identitas nasional, terutama identitas nasional Amerika

B. Analisis Benturan Peradaban Versi Huntington

Selama Perang Dingin dunia terbagi menjadi Dunia Pertama, Dunia Kedua, Dunia Ketiga. Pembagian tersebut tidak lagi relevan. Sekarang ini yang jauh lebih bermakna adalah mengelompokkan negara-negara berdasarkan budaya dan peradabannya. Sebuah peradaban adalah sebuah entitas budaya. Peradaban adalah pengelompokan budaya tertinggi dari sekelompok orang dan identitas budaya paling luas yang dimiliki oleh orang-orang yang membedakan manusia dari makhluk lain. Melalui peradabanlah manusia mengidentifikasi dan mendefinisikan identitasnya, sehingga sering kali komposisi dan batas-batas peradabanpun berubah.

Peradaban dapat meliputi sekelompok besar manusia (seperti halnya Cina), atau hanya sekelompok kecil orang (seperti orang-orang Karibia yang berbahasa Inggris). Dapat mencakup beberapa negara-bangsa (seperti Barat, Amerika Latin, dan Arab), atau hanya satu negara (seperti Jepang). Peradaban tentu saja melebur dan tumpang-tindih, dan bisa mencakup sub-sub peradaban. Peradaban Barat memiliki dua varian besar, Eropa dan Amerika Utara, dan Islam memiliki subdivisi Arab, Turki, dan Melayu. Peradaban juga bersifat dinamis (ada masa naik dan runtuh), serta terbelah dan menyatu.

Image 

Gambar 1: Peradaban-peradaban dunia yang akan saling berbenturan menurut Huntington

1)   Mengapa Peradaban Akan Berbenturan

Dunia masa depan akan di bentuk oleh hubungan timbal-balik antara tujuh atau delapan peradaban besar, seperti; peradaban Barat, Konghucu, Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks-Slaviks, Amerika Latin, dan kemungkinan besar juga peradaban Afrika. Mengapa masing-masing peradaban ini akan berkonflik satu sama lain;

      Pertama, perbedaan di antara peradaban bukan hanya nyata, melainkan juga mendasar. Seperti, perbedaan sejarah, bahasa, kebudayaan, tradisi, dan yang paling penting, agama. Memiliki konsepsi yang berbeda tentang hubungan antara Tuhan dan Manusia, individu dan kelompok, penduduk dan negara, antara hak dan kewajiban, kebebasan dan otoritas, persamaan dan hierarki, dll. Perbedaan ini merupakan produk yang dihasilkan selama berabad-abad, dan jauh lebih mendasar dibanding ideologi politik dan rezim-rezim.

      Kedua, dunia menjadi sebuah tempat yang lebih kecil. Hubungan timbal-balik yang terjadi di antara masyarakat dari peradaban yang berbeda semakin meningkat. Interaksi tersebut meningkatkan kesadaran peradaban, yang pada akhirnya memperkuat perbedaan dan permusuhan yang berakar panjang dalam sejarah.

      Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial diseluruh dunia memisahkan manusia dari identitas lokal yang sudah lama ada. Proses tersebut melemahkan negara bangsa sebagai sumber identitas, dan agama mengisi celahnya. Seperti gerakan fundamentalis, dan kebangkitan kembali agama ‘la revanche de Dieu’ (pembalasan Tuhan).

      Keempat, meningkatnya kesadaran-peradaban diperkuat oleh peran ganda barat. Disatu sisi, Barat sedang berada dipuncak kekuasaan, disaat yang sama fenomena kembali ke akar terjadi dalam peradaban-peradaban non-Barat. Seperti; Asianisasi di Jepang, Hinduinisasi di India, re-Islamisasi Timur Tengah karena kegagalan ide Barat tentang sosialisme dan nasionalisme, perdebatan Rusianisasi dan Westernisasi di Rusia.

      Kelima, karakteristik dan perbedaan budaya tidak mudah dipadamkan,  dikompromikan dan dipecah dibanding perbedaan politik dan ekonomi. Bahkan agama, lebih dari etnisitas, mendiskriminasi manusia secara tajam dan ekslusif. Seseorang bisa setengah Perancis dan setengah Arab, dan bahkan bisa menjadi warga dari dua negara. Lebih sulit menjadi setengah Katholik dan setengah Muslim.

      Terakhir, regionalisme ekonomi yang semakin meningkat. Di satu sisi, regionalisme ekonomi yang sukses akan memperkuat kesadaran peradaban, di sisi lain regionalisme bisa sukses hanya bila berakar dalam satu peradaban yang sama. Jepang menghadapi kesulitan dalam menciptakan entitas ekonomi di Asia Timur, sebaliknya, Cina sangat mudah dalam perluasan relasi ekonomi antara RRC, Hong Kong, Taiwan, Singapura dan Komunitas Cina di negara-negara Asia lain, karena memiliki kesamaan budaya. Budaya dan agama juga menjadi basis dari Organisasi Kerjasama Ekonomi yang menyatukan sepuluh negara Muslim non-Arab. Ketika orang-orang mendifinisikan identitas mereka berdasarkan etnis dan agama, mereka sangat mungkin melihat sebuah hubungan ‘kita’ lawan ‘mereka’.     

Dengan demikian, pertikaian peradaban terjadi dalam dua tingkat. Di tingkat mikro, kelompok-kelompok yang hidup berdampingan disepanjang garis pemisah antara peradaban-peradaban akan bertikai, acapkali brutal untuk memperebutkan kendali wilayah dan kendali satu-sama lain. Di tingkat makro, negara-negara dari peradaban yang berbeda bersaing untuk memperebutkan kekuasaan militer dan ekonomi, bertikai memperebutkan pengawasan atas lembaga internasional dan pihak ketiga, serta bersaing mempromosikan nilai-nilai politik dan keagamaan mereka. 

2)  Garis Pemisah Antar Peradaban

Ketika perang dingin usai, pembagian budaya Eropa antara Kristen Barat dan Kristen Ortodoks serta Islam di sisi lain kembali muncul. Orang-orang yang tinggal di daerah utara dan barat adalah kaum Protestan atau Katholik yang memiliki pengalaman yang sama dalam sejarah Eropa – feodalisme, Renaisans, Reformasi, Pencerahan, Revolusi, dan secara umum ekonomi mereka lebih baik dibanding wilayah timur. Sedangkan masyarakat yang tinggal di wilayah timur dan selatan adalah kaum ortodoks atau Muslim, bagian dari Kekaisaran Ottoman yang hanya sedikit tersentuh peristiwa-peristiwa penting Eropa, umumnya kurang maju secara ekonomi, demokrasi politik yang tidak stabil. Garis ini bukan sekedar garis perbedaan, namun kadang juga merupakan garis konflik berdarah.

Konflik yang terjadi disepanjang garis pemisah antara peradaban Barat dan Islam telah berlangsung selama 1.300 tahun. Setelah munculnya Islam, bangsa Arab dan Moor menyerbu barat dan utara dan berakhir di Tour pada 732 M. Abad 11 – 13, prajurit Perang Salib berusaha mengembalikan kekuasaan Kristen, abad 14 – 17, Kekaisaran Turki Ottoman menguasai Timur Tengah sampai ke Wina, abad 19 – 20, Inggris, Prancis dan Itali mengukuhkan kendali Barat. Setelah PD II, kekaisaran kolonial hilang, nasionalisme Arab dan fundamentalisme Islam muncul. Perang antara Barat dan Arab memuncak pada 1990, ketika AS mengirim pasukan yang besar ke Teluk Persia.

Interaksi militer yang sudah berabad-abad antara Barat dan Islam tidak memperlihatkan gejala melemah, bahkan semakin menegang. Perkembangan sosial dan ekonomi, demokrasi, demografi, pertumbuhan penduduk, migrasi, semakin memperuncing perbedaan keduanya. Di Italia, Perancis, dan Jerman, rasisme semakin terbuka, dan reaksi politik serta kekejaman terhadap imigran Arab dan Turki semakin nyata dan menyebar sejak 1990. Kekerasan juga sering terjadi antara kaum Muslim disatu sisi, dan kaum Serbia Ortodoks di Balkan, Yahudi di Israel, Hindu di India, Budha di Burma, dan Katholik di Filipina. Islam memiliki perbatasan-perbatasan yang berdarah.

3)   Sumber Utama Perbenturan Peradaban

Kelompok-kelompok atau negara-negara yang termasuk dalam sebuah peradaban yang terlibat peperangan dengan peradaban lain cenderung menggalang dukungan dari anggota lain dalam kelompok peradaban yang sama. Meski Irak – Iran adalah rival, tetapi ketika Barat (Amerika) menginvasi Irak, pemimpin agama Iran, Ayatollah Khomeini menyerukan perang suci melawan Barat. Gerakan fundamentalis Islam secara universal mendukung Irak ketimbang pemerintah Kuwait dan Saudi Arabia yang didukung Barat. Juga dukungan Turki terhadap Azerbaijan yang punya kemiripan agama, etnis dan linguistik, menghadapi Armenia (Kristen). Determinasi Paus dalam mendukung Serbia (Katholik) menghadapi Bosnia (Islam) di ikuti oleh Vatikan, Eropa dan Amerika, meskipun yang paling menderita adalah rakyat Bosnia. Pemerintah dan kelompok-kelompok Islam mengkritik Barat karena kegagalan mereka melindungi rakyat Bosnia. Para pemimpin Iran mendesak kaum Muslim di seluruh negara memberikan bantuan bagi Bosnia, termasuk Arab Saudi. Di tahun-tahun mendatang, konflik lokal yang paling mungkin meningkat menjadi perang besar adalah konflik-konflik seperti halnya di Bosnia, yang terjadi disepanjang garis pemisah antar-peradaban. Perang dunia berikutnya, bila ada, adalah perang antara peradaban.

Dibandingkan peradaban lainnya, Barat sekarang berada di puncak kejayaannya. Barat memiliki kekuasaan militer yang tak tertandingi, tidak menghadapi tantangan ekonomi (selain dari Jepang), mendominasi lembaga politik dan keamanan internasional, mendominasi ekonomi internasional. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam Dewan Keamanan PBB atau IMF yang mencerminkan kepentingan Barat disajikan kepada dunia sebagai kepentingan masyarakat dunia. Barat memanfaatkan lembaga, kekuatan militer, dan sumber daya ekonomi internasional untuk mengendalikan dunia dengan cara-cara yang dapat mempertahankan dominasi Barat, melindungi kepentingan Barat, dan mempromosikan nilai-nilai politik dan ekonomi Barat. Respon terhadap Barat  dari negara non-Barat secara umum mengambil satu atau kombinasi dari tiga bentuk; isolasi dan keluar dari komunitas global (Korea Utara dan Burma), harga yang harus dibayar mahal; ‘pendomplengan’ berupaya bergabung dengan Barat dan nilai-nilainya; ‘menyeimbangkan’ menjadi modern tanpa harus menjadi kebarat-baratan.

Negara-negara yang tercabik karena strategi ‘pendomplengan’ yang dilakukan para pemimpin mereka, menjadikan negeri mereka bagian dari Barat, tetapi sejarah, budaya, dan tradisi mereka adalah non-Barat, seperti:

  1. Turki, mendaftarkan diri sebagai komunitas Eropa tetapi masyarakatnya mendukung kebangkitan Islam.
  2. Meksiko, berhenti menegaskan oposisinya terhadap AS dan berusaha meniru AS, meski masyarakatnya berkeras mengatakan Meksiko adalah Amerika Latin.
  3. Rusia, mengimpor ideologi Barat, mengadaptasikannya dengan kondisi Rusia dan kemudian menentang Barat dengan ideologi tersebut.

Secara historis Turki adalah negeri yang paling tercabik. Bagi Amerika Serikat, Meksiko adalah negeri yang segera tercabik. Secara global, negeri terpenting yang tercabik-cabik adalah Rusia.

Hambatan bagi negara-negara non-Barat untuk bergabung dengan Barat sangat beragam. Terutama bagi negara Muslim, Konghucu, Hindu dan Budha. Akan tetapi Jepang mengembangkan posisi yang unik sebagai anggota asosiasi Barat: ia ada di Barat dalam segala hal, tetapi sudah jelas bukan Barat dalam dimensi yang lebih penting. Negeri yang tidak bisa bergabung dengan Barat dengan alasan budaya dan kekuasaan, bersaing dengan Barat dan mengembangkan ekonomi, militer dan kekuasaan politik mereka. Juga melakukan kerjasama dengan negeri-negeri yang non-Barat lainnya, yang paling mencolok adalah kerjasama Konghucu-Islam (Cina, Korea Utara, dan beberapa negara Timur Tengah). Hubungan ini dirancang untuk mendorong kemampuan negara-negara anggotanya atas persenjataan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadapi militer Barat.

KONKLUSI

Tidaklah begitu mengherankan sebenarnya, kenapa Huntington menulis buku ‘Perbenturan Peradaban’ ini, jika dilihat dari siapa Huntington. Ia pada awalnya  terkenal karena merupakan salah satu penasihat presiden AS, Lyndon B. Johnson dalam Perang Vietnam, termasuk penggunaan gas Napalm dan metode – metode lain untuk membunuh para Vietkong. Tetapi tentu saja tidak hanya Vietkong yang mati, rakyat biasa, anak-anak dan perempuan ikut menjadi korban pembantaian tersebut. Huntington adalah orang yang ikut ‘bertanggung jawab’ atas kematian lebih dari lima juta rakyat Vietnam, Kamboja dan Laos.

Sebagai seorang yang ikut andil dalam berbagai kebijakan luar negeri Amerika, Huntington tentunya berupaya keras menyediakan landasan “teologis“ mengapa Amerika “harus“ menyerbu Irak. Tidak lebih dari mencari alasan ‘pembenaran’ atas semua kebijakan-kebijakan Amerika.  Dengan karya Huntington ini si Bapak-Anak Bush dkk, yang mungkin menganggap diri mereka semacam kristus masa kini dengan berusaha mengalahkan negara – negara anti-kristus macam Irak, Iran, Islam, Cina dan Rusia. Banyak ahli menganggap karya Samuel ini tendensius, pengingkaran dan penyangkalan historis (ahistoris), mengada-ada, terlalu primordial, tentu saja sangat naif. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan bervarian, pemikiran Samuel justru terlempar jauh ke belakang seribu tahun.

Meskipun Huntington menyanggah bahwa hipotesis-hipotesisnya tentang perbenturan peradaban bukan untuk menimbulkan konflik, tetapi secara gamblang ia menuduh Islam ataupun Konghucu sebagai sumber dari perbenturan yang akan mengusik kejayaan peradaban Barat. Agaknya Huntington lupa peranan  biosfer, seperti yang dikatakan Toynbee, dalam menjaga keseimbangannya. Alam memiliki kekuatan-kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibanding teknologi secanggih apapun yang diciptakan oleh manusia. Betapa banyak peradaban-peradaban besar terdahulu yang hancur karena bencana alam ketika berada dipuncak kejayaannya. Benarkah perbenturan peradaban akan terjadi? Belum pasti, tetapi kemungkinan peradaban Barat yang berada dipuncak kejayaannya akan hancur dengan sendirinya karena ‘perlawanan’ biosfer, itu mungkin saja terjadi.

                                                                                                                                  Wallahualam….

Tulisan ini saya ambil dari  insistnet yang ditulis oleh Tiar Anwar Bachtiar.  Merupakan artikel yang sangat menarik, yang menggugah kesadaran kita sebagai bangsa yang sudah lama beradab. Menurut saya sangat lah rugi jika masyarakat Republik ini apabila tidak membacanya.

Sudah menjadi permakluman bersama di manapun, termasuk di Indonesia, sebuah pengajaran “Sejarah Nasional” ditujukan untuk meyakinkan warga negaranya bahwa negara yang  menjadi tempat hidup mereka adalah sebuah negara yang sah dan layak untuk diberi dukungan sepenuhnya. Pembelaan dan dukungan terhadap negara  atau “nasionalisme” merupakan buah yang ingin diperoleh dari pengajaran sejarah.

Di Indonesia keinginan ini terlihat dalam kurikulum pengajaran sejarah sejak pelajaran sejarah Indonesia ditetapkan sekitar tahun 1950-an. Terakhir, dalam standar isi pelajaran yang diterbitkan BNSPI (Badan Nasional Standarisasi Pendidikan Indonesia) melalui Kepmen No. 22 tahun 2006 disebutkan tujuan pengajaran sejarah antara lain untuk: menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang; dan menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional.  (tujuan pelajaran sejarah untuk SMA no. 4 dan 5).

Tujuan seperti di atas memang wajar dikehendaki oleh suatu Negara. Akan tetapi, dalam kasus Indonesia, yang menjadi persoalan justru pada perumusan apa yang dimaksud dengan “Indonesia”. Isi pelajaran sejarah Indonesia yang semestinya dapat menjawab pertanyaan tersebut selama ini ternyata gagal memberikan makna ke-Indonesia-an bagi seluruh warga bangsa. Makna “Indonesia” yang diciptakan dalam buku-buku pelajaran sejarah justru  mengesankan permusuhan bagi sebagian kelompok di negeri ini.

Contoh yang paling nyata adalah mengenai peran Islam dan umat Islam dalam pembentukan Indonesia. Dalam standar kompetensi dan komptensi dasar yang dibuat BNSPI, peran Islam hanya dibahas di kelas XI Semester 1 sub bagian 1.3 dan 1.4 setelah penjelasan mengenai Hindu-Budha pada sub-bagian 1.1 dan 1.2. Pembahasannya diletakan di bawah bagian analisis  perjalanan bangsa Indonesia pada masa negara-negara tradisional.

Di kelas XI Semester 2, secara atraktif dan panjang lebar dibahas mengenai pengaruh Barat dan sejarah dunia pada perkembangan Indonesia. Selanjutnya di kelas XII semester 1 dan 2, peristiwa-peristiwa yang  telah diceritakan kemudian dibingkai dengan pengaruh Barat. Sedangkan peran Islam dan umat Islam  tidak terlalu banyak disinggung, baik pada periode kolonial, kebangkitan nasional, perjuangan kemerdekaan,  ataupun pada saat perumusan konstitusi jaman pra-Orde Baru yang sangat kental pertentangan ideologinya (baca: Islam vs nasionalis-sekuler).

Setting kurikulum semacam ini seolah mengisyaratkan bahwa setelah era kerajaan-kerajaan Islam sebagai kekuasaan tradisional,  tidak ada lagi kisah tentang “Islam”. Kalaupun beberapa kisah organisasi Islam diselip-selipkan, seperti keberadaan Sarekat Islam, Masyumi, Muhammadiyah, NU, dan PPP,  sama sekali tidak mengisyaratkan adanya peran “Islam” bagi bangsa Indonesia. Seolah-olah keberadaan organisasi-organisasi Islam ini hanya menjadi pelengkap penderita dalam Indonesia baru yang ‘dimenangkan’ oleh kaum nasionalis-sekuler, baik secara politik maupun kebudayaan. Sekalipun mereka Muslim, tetapi mereka sudah setuju dengan Indonesia yang sekuler!

Perhatikan bagaimana momen-momen dalam pembentukan Indonesia diabaikan tanpa makna seperti terumuskannya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan perdebatan 18 Agustus 1945 yang akhirnya melahirkan Pancasila sebagai dasar negara. Kurikulum kita seolah ingin mengubur ingatan bangsa, bahwa perdebatan yang muncul saat Indonesia hendak berdiri adalah perdebatan yang didorong oleh pemikiran keagamaan, dalam hal ini Islam. Bagaimana akhirnya kompromi dicapai justru bukan antara kelompok sekuler vs sekuler, melainkan antara kelompok sekuler vs kelompok Islam. Bahkan bila ditelisik, kompromi ini mengarah kepada diakomodasinya kepentingan umat Islam secara luas seperti tercermin dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Lebih mengkhawatirkan lagi, pada saat menceritakan peristiwa-peristiwa pembangkangan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok agama, justru menohok Islam. DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) disebut secara terang-terangan tanpa penjelasan memadai  mengenai konteks politik kemunculannya sehingga ditemukan kewajarannya. Demikian pula pada kasus PRRI yang banyak didukung oleh mantan aktivis Masyumi. Padahal, baik Kartosuwiryo maupun aktivis Masyumi yang tergabung dalam PRRI seperti M. Natsir, adalah para tokoh yang berdarah-darah mendirikan dan memperjuangkan  Indonesia. Akan tetapi, setting kurikulum saat ini justru memojokkan Kartosuwiryo dan M. Natsir sebagai “penjahat” karena dianggap terlibat dalam gerakan “pemberontakan”, tanpa  analisis mendalam untuk mendudukan secara adil posisinya dalam sejarah.

Disadari ataupun tidak, kurikulum tersebut telah memposisikan Islam yang menjadi anutan mayoritas penduduk Indonesia sebagai trouble maker. Islam tidak dilihat sebagai unsur terpenting dalam pembangunan bangsa. Padahal sepanjang sejarah modern Indonesia;  baik secara budaya, sosial, ekonomi, maupun politik; peran Islam dan umat Islam begitu besar dalam memperjuangkan, mendirikan, memepertahankan, dan membangun bangsa ini. Pada saat yang sama,  anasir-anasir sekular- baik dalam wujud ide maupun gerakan-  justru dianggap sebagai pihak yang paling “benar” dan paling berhak atas Indonesia.

Dengan pola kurikulum seperti itu, secara halus siswa seolah diajarkan bahwa menjadi Islam tidak bisa bersamaan menjadi “Indonesia” karena Islam di Indonesia adalah pengacau, pemberontak, dan bahkan teroris. Umat Islam yang ingin menjadi muslim yang kâffah justru termajinalkan dan tersingkir dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga negara perlu melakukan intropeksi diri apabila kemudian bermunculan gerakan-gerakan berjejaring internasional- yang mengatasnamakan Islam- dan tidak terlampau senang untuk sepenuhnya menjadi Indonesia. Bila jaman Muhammad Yamin, menjadi Indonesia berarti harus ke-Hindu-Hindu-an,  sementara sejak  era Suharto hingga saat ini,  menjadi  Indonesia   berarti harus menjadi “sekuler”.

Nasionalisme Indonesia yang dibangun di atas nilai sekularisme akan sangat  merugikan bangsa ini. Sekularisme tidak pernah memberikan nilai terdalam bagi tindakan seseorang. Ujung dari sekularisme hanyalah pragmatisme kebendaan. Oleh sebab itu, tidak heran bila kemudian lahir generasi-generasi pragmatis “tanpa nilai” yang hanya peduli dengan Indonesia bila secara materi menguntungkan. Bila tidak, tanpa rasa menyesal mereka akan katakan,Go to hell Indonesia!,  kemudian menghalalkan berbagai cara untuk  memperkaya diri walaupun harus mengeksploitasi kekayaan negeri ini dan  mengorbankan kepentingan bangsanya.

Sekularisme juga telah membuka kotak Pandora hubungan antar-agama di Indonesia. Setelah sekularisme ditahbiskan menjadi dasar, mau tidak mau, hubungan antar-agama pun harus didefiniskan mengikuti selera sekuler. Pluralisme yang berakar pada tradisi filsafat perennial  kemudian menjadi pilihan. Filsafat perennnial sangat bertentangan dengan doktrin atau kepercayaan umat beragama dalam meletakkan posisi agama mereka. Maka tidak mengherankan bila pluralisme-sekuler mendapat tentangan keras dari berbagai tokoh agama. Representasi mayoritas pemimpin Muslim di MUI  kemudian harus turun tangan mengeluarkan fatwa haram Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme pada tahun 2005.

Sesungguhnya, apabila akar kebudayaan bangsa ini dikembalikan pada fakta dan realitas bahwa  Islam sebagai way of life, telah terbukti  mampu menorehkan tinta emas  dalam sejarah peradaban Indonesia dan dunia, tentulah hal-hal seperti di atas tidak perlu terjadi.  Keberadaan Islam sebagai kekuatan mayoritas di negeri ini pun akan menjadi  konstruktif dalam membangun makna ke-Indonesiaan sehingga tidak perlu lagi berbenturan dengan masalah keyakinan. Dengan begitu, Islam akan tampil sebagai kekuatan raksasa yang diharapkan mampu menjadi penopang utama pembangunan bangsa ini.

Sudah saatnya kita mendefinisikan kembali makna “keindonesiaan” dengan menyertakan unsur terpenting dalam sejarah Indonesia, yaitu Islam. Islam sebagai tata nilai dan agama yang dianut mayoritas bangsa ini, harus ‘dibunyikan’  lebih nyaring daripada Sekularisme yang sama sekali tidak memiliki akar dalam tradisi dan budaya Indonesia. Bukankah sekularisme yang datang ke negeri ini adalah anak kandung dari “kolonialisme” yang justru kita caci bersama sebagai salah satu faktor yang membuat bangsa ini sengsara ? Lalu mengapa induknya kita tolak, tapi turunannya kita biarkan hidup? Wallâhu A‘lam. 

Ruang, 30 Januari 2012


Aku masih terjaga di saat lelapmu

Menyepi dalam kesunyian sendiri

Izinkan aku mengutuki waktu yang akan merebutmu dariku…

Dan ini akan terjadi…_

Maafkanlah orang yang bodoh ini

Dua tahun…hanya setetes bahagia yang mampu diberikannya untukmu

Dan dalam waktu yang tersisa kini…

Ajari dia untuk memperbaiki semuanya

Hingga kebodohan nya menjadi kedewasaan…_

Sakura lover Sabtu,15 Maret 2008.01:20 WIB

 

Dua tahun sudah waktu yang ku jalani bersamamu ada suka dan ada dukanya, Namun diatas semua itu

bersama-sama kita telah bermetafora menjadi sosok dewasa, Dengan kebodohan dan kesalahan sebagai titik awal belajar untuk lebih

Baik dan Pintar.

FlindrY, Sabtu, 15 Maret 2008. 05:44 WIB

 

Tak ada kata indah ku tulis

Tak ada syair syahdu ku lantunkan

Tak ada pantun nan ku kirim

Hanya salam dan doa agar persahabatan kita ini penuh berkah…

SELAMAT HARI PERSAHABATAN

RubbY Souffert, Sabtu 15 Maret 2008. 06:21 WIB

 

Dua tahun waktu yang begitu singkat bagiku bersamamu

Ku sangat ingin selalu bersamamu

Tapi waktu telah menyadariku, perlahan-lahan kau telah pergi dari ku

Kusangat sedih…

Tapi hari ini mengingatkanku padamu

Orang yang sangat ku sayang

Walaupun ku tak tau apakah masih ada sayang mu untuk ku lagi?

RhYu, Sabtu 15 Maret 2008. 06:29 WIB

 

Kebodohan takkan pernah bisa berikan bahagia

Jangan pernah ucapkan bahagia yang kau beri hanya setetes

Karena itu bagiku lebih dari sekedar bahagia dari seorang kekasih…

Waktu takkan buatku pergi darimu

Karena aku tak akan pergi dari seseorang yang menjadi kebanggaan hidupku

Seorang sahabat yang sering ku banggakan…

Seorang sahabat yang memelukku saat duniaku sempat runtuh

Bahkan untuk seorang sahabat yang tetap ada meski kadang sikapku lukaimu

Tidak…!!! Aku tak kan pergi darimu

Aku tetap disini berdiri disudut gelap hatiku menyayangimu dengan caraku

Kalaupun aku harus pergi hanya tangan-tangan semu yang akan menarikku

Karena aku akan kembali…

Edelweis Sabtu 15 Maret 2008. 06:51 WIB

PERSPEKTIF SOSIOLOGI


Sosiologi menawarkan suatu perspektif, suatu pandangan mengenai dunia. Perpektif sosiologi membuka jendela ke arah dunia yang tak dikenal dan menawarkan pandangan segar ke dunia yang dikenal. Dalam masyarakat tentunya sering ditemukan beberapa pandangan yang berbeda satu sama lain, terutama dalam melihat kenyataan sosial atau realitas sosial. Penilaian atas sebuah realitas umumnya dimulai dengan asumsi, yaitu dugaan individu yang belum teruji kebenarannya. Kemudian asumsi-asumsi tersebut berkembang menjadi perspektif, pandangan atau paradigma.

A.  Pengertian

Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang suatu hal, dengan perspektif orang akan memandang suatu hal berdasarkan cara-cara tertentu. Perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu. Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional.

Perspektif sosiologi menekankan pada konteks sosial dalam mana manusia hidup. Perspektif sosiologi mengkaji bagaimana konteks tersebut mempengaruhi kehidupan manusia. Perspektif sosiologi merupakan pola pengamatan ilmu sosiologi dalam mengkaji tentang kehidupan masyarakat dengan segala aspek atau proses sosial kehidupan di dalamnya. Inti dari perspektif sosiologi adalah pertanyaan bagaimana kelompok mempengaruhi manusia, khususnya bagaimana manusia dipengaruhi masyarakatnya.

Pada perkembangannya terdapat empat perspektif dalam sosiologi, yaitu perspektif evolusionis, perspektif interaksionis, perspektif fungsionalis dan perspektif konflik.

1)      Perspektif Evolusionis

  1. Merupakan Perspektif teoretis yang paling awal dalam sosiologi
  2. Perspektif ini didasarkan pada karya Auguste Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903)
  3. Perspektif ini memberikan keterangan tentang bagaimana masyarakat manusia berkembang dan tumbuh, yang menitikberatkan pada pola perubahan masyarakat dalam kehidupannya.
  4. Dalam perspektif ini secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan manusia atau masyarakat itu selalu bergerak maju, namun ada beberapa hal yang tidak ditinggalkan sama sekali dalam pola kehidupannya yang baru dan akan terus dibawa meskipun hanya sebagian kecil sampai pada perubahan yang paling baru.
  5. Selain itu juga, perspektif ini menyatakan bahwa masyarakat sebagai suatu organisme atau suatu makhluk hidup yang mengalami proses diferensiasi dan integrasi secara berurutan. Kehidupan masyarakat sebagai suatu organisme mengalami suatu pertumbuhan secara terus menerus dalam upaya memperbaiki struktur yang ada. Dalam kaitannya dengan proses perubahan sosial terdapat empat hal penting, yaitu : asal usul dari masyarakat maju sekarang, tingkat perubahan sosial, penyebab perubahan sosial, kemana arah perubahan sosial yang akan terjadi.
  6. Para sosiolog yang memakai perspektif evolusionis, mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda, untuk mengetahui apakah ada urutan umum yang dapat ditemukan. Contoh : Apakah faham komunis Cina akan berkembang sama seperti faham komunis Rusia yang memperoleh kekuasaan tiga dasa warsa lebih dulu; Apakah pengaruh proses industrialisasi terhadap keluarga di negara berkembang sama dengan yang ditemukan di negara Barat.

2)      Perspektif Interaksionis

  1. Perspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abstraksi konseptual saja, yang dapat ditelaah secara langsung hanyalah orang-orang dan interaksinya saja.
  2. Para ahli interaksi simbolik seperti G.H. Mead (1863-1931) dan C.H. Cooley (1846-1929) memusatkan perhatiannya terhadap interaksi antara individu dan kelompok.

Mereka menemukan, bahwa orang-orang berinteraksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda, isyarat, dan yang paling penting, melalui kata-kata tulisan dan lisan. Suatu kata tidak memiliki makna yang melekat dalam kata itu sendiri, melainkan hanyalah suatu bunyi, dan baru akan memiliki makna bila orang sependapat bahwa bunyi tersebut memiliki suatu arti khusus.

  1. W.I. Thomas (1863-1947) mengungkapkan tentang Definisi suatu situasi, yang mengutarakan bahwa kita hanya dapat bertindak tepat bila kita telah menetapkan sifat situasinya.
  2. Berger dan Luckman dalam bukunya Social Constructions of Reality (1966): Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif, dalam arti orang, kelompok, dan lembaga-lembaga adalah nyata, terlepas dari pandangan kita terhadap mereka.

Akan tetapi, masyarakat adalah juga suatu kenyataan subjektif, dalam arti bagi setiap orang, dan lembaga-lembaga lain tergantung pada pandangan subjektif orang tersebut. Apakah sebagian orang sangat baik atau sangat keji, apakah polisi pelindung atau penindas, apakah perusahaan swasta melayani kepentingan umum atau kepentingan pribadi. Ini adalah persepsi yang mereka bentuk dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri, dan persepsi ini merupakan “kenyataan” bagi mereka yang memberikan penilaian tersebut.

  1. Para ahli dalam bidang perspektif interaksi modern, seperti Erving Goffman (1959) dan Herbert Blumer (1962) menekankan bahwa orang tidak menanggapi orang lain secara langsung; sebaliknya mereka menanggapi orang lain sesuai dengan “bagaimana mereka membayangkan orang itu.”

3)      Perspektif Fungsionalis

  1. Dalam Perspektif ini, suatu masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang berkerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut.
  2. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan ke arah keseimbangan, yaitu suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
  3. Talcott Parsons (1937), Kingsley Davis (1937) dan Robert Merton (1957) ; Setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu dan terus menerus, karena hal itu fungsional.
  4. Perubahan sosial mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil, namun tidak lama kemudian terjadi keseimbangan baru.
  5. Bila suatu perubahan sosial tertentu mempromosikan suatu keseimbangan yang serasi, hal tersebut dianggap fungsional; bila perubahan sosial tersebut mengganggu keseimbangan, hal tersebut merupakan gangguan fungsional; bila perubahan sosial tidak membawa pengaruh, maka hal tersebut tidak fungsional.
  6. Dalam suatu negara demokratis, partai-partai politik adalah fungsional, sedangkan pemboman, pembunuhan dan terorisme politik adalah gangguan fungsional, dan perubahan dalam kamus politik dan perubahan dalam lambang adalah tidak fungsional.
  7. Dalam pengembangannya Perspektif fungsionalis menekankan pada empat sebagai berikut :

–        Masyarakat tidak bisa hidup kecuali anggota-anggotanya mempunyai persamaan persepsi sikap, dan nilai.

–        Setiap bagian mempunyai kontribusi pada keseluruhan.

–        Masing-masing bagian terintegrasi satu sama lain dan saling memberi dukungan.

–        Masing-masing memberi kekuatan sehingga keseluruhan masyarakat menjadi stabil.

4)      Perspektif Konflik

  1. Perspektif konflik secara luas terutama didasarkan pada karya Karl Marx (1818-1883), yang melihat pertentangan dan eksploitasi kelas sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah.
  2. Wright Mills (1956-1959), Lewis Coser (1956), Aron (1957), Dahrendorf (1959, 1964), Chambliss (1973), dan Collines (1975): Bilamana, para fungsionalis melihat keadaan normal masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, maka para teoretisi konflik melihat masyarakat sebagai berada dalam konflik yang terus-menerus di antara kelompok dan kelas.
  3. Teoretisi konflik melihat perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan terkecuali satu hal, dimana orang-orang muncul sebagai penentang – kelas, bangsa, kewarganegaraan dan bahkan jenis kelamin.
  4. Para teoretisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan.
  5. Mereka mengklaim bahwa “nilai-nilai bersama” yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai suatu ikatan pemersatu tidaklah benar-benar suatu konsensus yang benar; sebaliknya konsensus tersebut adalah ciptaan kelompok atau kelas yang dominan untuk memaksakan nilai-nilai serta peraturan mereka terhadap semua orang.
  6. Singkatnnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial, yang memandang masyarakat terus menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial. Perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan.

B. Perspektif Utama dalam Sosiologi

Dari penjelasan keempat perspektif di atas, ada dua pespektif yang menjadi perspektif utama dalam sosiologi yaitu perspektif fungsionalis dan perspektif konflik. Perbedaan kedua perspektif ini dapat diperhatikan pada persepsi-persepsi berikut;

Persepsi tentang Teori Fungsionalis Teori Konflik
Masyarakat Suatu sistem yang stabil dari kelompok-kelompok yang bekerjasama Suatu sistem yang tidak stabil dari kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang saling bertentangan
Kelas Sosial Suatu tingkat status dari orang-orang yang memperoleh pendapatan dan memiliki gaya hiidup yang serupa. Berkembang dari isi perasaan orang dan kelompok yang berbeda Sekelompok orang yang memiliki kepentingan ekonomi dan kebutuhan kekuasaan yang serupa. Berkembang dari keberhasilan sebagian orang dalam mengeksploitasi orang lain
Perbedaan Sosial Tidak dapat dihindarkan ddalam susunan masyarakat yang kompleks. Terutama disebabkan perbedaan kontribusi dari kelompok-kelompok yang berbeda Tidak perlu dan tidak adil. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. Dapat dihindarkan dengan jalan penyusunan kembali masyarakat secara sosialistis
Perubahan Sosial Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus berubah Dipaksakan oleh suatu kelas terhadap kelas yang lainnya untuk kepentingan kelas pemaksa
Tata tertib sosial Hasil usaha tidak sadar orang-orang untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan mereka secara produktif Dihasilkan dan dipertahankan oleh pemaksa yang terorganisasi oleh kelas-kelas yang dominan
Nilai-nilai Konsensus atas nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. Khayalan (ilusi) consensus nilai-nilai dipertahankan oleh nilai-nilai yang dominan
Lembaga-lembaga sosial Menanamkan nilai-nilai umum dan kesetian yang mempersatukan masyarakat Menanamkan nilai-nilai dan kesetian yang melindungi golongan yang mendapat hak-hak istimewa
Hukum dan Pemerintahan Menjalankan peraturan yang mencerminkan consensus nilai-nilai masyarakat Menjalankan peraturan yang dipaksakana oleh kelas yang dominan untuk melindungi hak-hak istimewa

Berbagai perspektif digunakan dalam sosiologi. Masing-masing memandang masyarakat dari persepsi yang berbeda. Namun, pada dasarnya setiap perspektif sampai tingkat tertentu digunakan oleh kebanyakan sosiolog dan diperlukan untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh tentang suatu masyarakat.

Universitas Alam, September 2011

Hera HM

Sumber Bacaan;

James M. Henslin. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt. 1999. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

Awan Tag