Bismillah….

PERSPEKTIF SOSIOLOGI


Sosiologi menawarkan suatu perspektif, suatu pandangan mengenai dunia. Perpektif sosiologi membuka jendela ke arah dunia yang tak dikenal dan menawarkan pandangan segar ke dunia yang dikenal. Dalam masyarakat tentunya sering ditemukan beberapa pandangan yang berbeda satu sama lain, terutama dalam melihat kenyataan sosial atau realitas sosial. Penilaian atas sebuah realitas umumnya dimulai dengan asumsi, yaitu dugaan individu yang belum teruji kebenarannya. Kemudian asumsi-asumsi tersebut berkembang menjadi perspektif, pandangan atau paradigma.

A.  Pengertian

Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang suatu hal, dengan perspektif orang akan memandang suatu hal berdasarkan cara-cara tertentu. Perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu. Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional.

Perspektif sosiologi menekankan pada konteks sosial dalam mana manusia hidup. Perspektif sosiologi mengkaji bagaimana konteks tersebut mempengaruhi kehidupan manusia. Perspektif sosiologi merupakan pola pengamatan ilmu sosiologi dalam mengkaji tentang kehidupan masyarakat dengan segala aspek atau proses sosial kehidupan di dalamnya. Inti dari perspektif sosiologi adalah pertanyaan bagaimana kelompok mempengaruhi manusia, khususnya bagaimana manusia dipengaruhi masyarakatnya.

Pada perkembangannya terdapat empat perspektif dalam sosiologi, yaitu perspektif evolusionis, perspektif interaksionis, perspektif fungsionalis dan perspektif konflik.

1)      Perspektif Evolusionis

  1. Merupakan Perspektif teoretis yang paling awal dalam sosiologi
  2. Perspektif ini didasarkan pada karya Auguste Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903)
  3. Perspektif ini memberikan keterangan tentang bagaimana masyarakat manusia berkembang dan tumbuh, yang menitikberatkan pada pola perubahan masyarakat dalam kehidupannya.
  4. Dalam perspektif ini secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan manusia atau masyarakat itu selalu bergerak maju, namun ada beberapa hal yang tidak ditinggalkan sama sekali dalam pola kehidupannya yang baru dan akan terus dibawa meskipun hanya sebagian kecil sampai pada perubahan yang paling baru.
  5. Selain itu juga, perspektif ini menyatakan bahwa masyarakat sebagai suatu organisme atau suatu makhluk hidup yang mengalami proses diferensiasi dan integrasi secara berurutan. Kehidupan masyarakat sebagai suatu organisme mengalami suatu pertumbuhan secara terus menerus dalam upaya memperbaiki struktur yang ada. Dalam kaitannya dengan proses perubahan sosial terdapat empat hal penting, yaitu : asal usul dari masyarakat maju sekarang, tingkat perubahan sosial, penyebab perubahan sosial, kemana arah perubahan sosial yang akan terjadi.
  6. Para sosiolog yang memakai perspektif evolusionis, mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda, untuk mengetahui apakah ada urutan umum yang dapat ditemukan. Contoh : Apakah faham komunis Cina akan berkembang sama seperti faham komunis Rusia yang memperoleh kekuasaan tiga dasa warsa lebih dulu; Apakah pengaruh proses industrialisasi terhadap keluarga di negara berkembang sama dengan yang ditemukan di negara Barat.

2)      Perspektif Interaksionis

  1. Perspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abstraksi konseptual saja, yang dapat ditelaah secara langsung hanyalah orang-orang dan interaksinya saja.
  2. Para ahli interaksi simbolik seperti G.H. Mead (1863-1931) dan C.H. Cooley (1846-1929) memusatkan perhatiannya terhadap interaksi antara individu dan kelompok.

Mereka menemukan, bahwa orang-orang berinteraksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda, isyarat, dan yang paling penting, melalui kata-kata tulisan dan lisan. Suatu kata tidak memiliki makna yang melekat dalam kata itu sendiri, melainkan hanyalah suatu bunyi, dan baru akan memiliki makna bila orang sependapat bahwa bunyi tersebut memiliki suatu arti khusus.

  1. W.I. Thomas (1863-1947) mengungkapkan tentang Definisi suatu situasi, yang mengutarakan bahwa kita hanya dapat bertindak tepat bila kita telah menetapkan sifat situasinya.
  2. Berger dan Luckman dalam bukunya Social Constructions of Reality (1966): Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif, dalam arti orang, kelompok, dan lembaga-lembaga adalah nyata, terlepas dari pandangan kita terhadap mereka.

Akan tetapi, masyarakat adalah juga suatu kenyataan subjektif, dalam arti bagi setiap orang, dan lembaga-lembaga lain tergantung pada pandangan subjektif orang tersebut. Apakah sebagian orang sangat baik atau sangat keji, apakah polisi pelindung atau penindas, apakah perusahaan swasta melayani kepentingan umum atau kepentingan pribadi. Ini adalah persepsi yang mereka bentuk dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri, dan persepsi ini merupakan “kenyataan” bagi mereka yang memberikan penilaian tersebut.

  1. Para ahli dalam bidang perspektif interaksi modern, seperti Erving Goffman (1959) dan Herbert Blumer (1962) menekankan bahwa orang tidak menanggapi orang lain secara langsung; sebaliknya mereka menanggapi orang lain sesuai dengan “bagaimana mereka membayangkan orang itu.”

3)      Perspektif Fungsionalis

  1. Dalam Perspektif ini, suatu masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang berkerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut.
  2. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan ke arah keseimbangan, yaitu suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
  3. Talcott Parsons (1937), Kingsley Davis (1937) dan Robert Merton (1957) ; Setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu dan terus menerus, karena hal itu fungsional.
  4. Perubahan sosial mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil, namun tidak lama kemudian terjadi keseimbangan baru.
  5. Bila suatu perubahan sosial tertentu mempromosikan suatu keseimbangan yang serasi, hal tersebut dianggap fungsional; bila perubahan sosial tersebut mengganggu keseimbangan, hal tersebut merupakan gangguan fungsional; bila perubahan sosial tidak membawa pengaruh, maka hal tersebut tidak fungsional.
  6. Dalam suatu negara demokratis, partai-partai politik adalah fungsional, sedangkan pemboman, pembunuhan dan terorisme politik adalah gangguan fungsional, dan perubahan dalam kamus politik dan perubahan dalam lambang adalah tidak fungsional.
  7. Dalam pengembangannya Perspektif fungsionalis menekankan pada empat sebagai berikut :

-        Masyarakat tidak bisa hidup kecuali anggota-anggotanya mempunyai persamaan persepsi sikap, dan nilai.

-        Setiap bagian mempunyai kontribusi pada keseluruhan.

-        Masing-masing bagian terintegrasi satu sama lain dan saling memberi dukungan.

-        Masing-masing memberi kekuatan sehingga keseluruhan masyarakat menjadi stabil.

4)      Perspektif Konflik

  1. Perspektif konflik secara luas terutama didasarkan pada karya Karl Marx (1818-1883), yang melihat pertentangan dan eksploitasi kelas sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah.
  2. Wright Mills (1956-1959), Lewis Coser (1956), Aron (1957), Dahrendorf (1959, 1964), Chambliss (1973), dan Collines (1975): Bilamana, para fungsionalis melihat keadaan normal masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, maka para teoretisi konflik melihat masyarakat sebagai berada dalam konflik yang terus-menerus di antara kelompok dan kelas.
  3. Teoretisi konflik melihat perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan terkecuali satu hal, dimana orang-orang muncul sebagai penentang – kelas, bangsa, kewarganegaraan dan bahkan jenis kelamin.
  4. Para teoretisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan.
  5. Mereka mengklaim bahwa “nilai-nilai bersama” yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai suatu ikatan pemersatu tidaklah benar-benar suatu konsensus yang benar; sebaliknya konsensus tersebut adalah ciptaan kelompok atau kelas yang dominan untuk memaksakan nilai-nilai serta peraturan mereka terhadap semua orang.
  6. Singkatnnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial, yang memandang masyarakat terus menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial. Perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan.

B. Perspektif Utama dalam Sosiologi

Dari penjelasan keempat perspektif di atas, ada dua pespektif yang menjadi perspektif utama dalam sosiologi yaitu perspektif fungsionalis dan perspektif konflik. Perbedaan kedua perspektif ini dapat diperhatikan pada persepsi-persepsi berikut;

Persepsi tentang Teori Fungsionalis Teori Konflik
Masyarakat Suatu sistem yang stabil dari kelompok-kelompok yang bekerjasama Suatu sistem yang tidak stabil dari kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang saling bertentangan
Kelas Sosial Suatu tingkat status dari orang-orang yang memperoleh pendapatan dan memiliki gaya hiidup yang serupa. Berkembang dari isi perasaan orang dan kelompok yang berbeda Sekelompok orang yang memiliki kepentingan ekonomi dan kebutuhan kekuasaan yang serupa. Berkembang dari keberhasilan sebagian orang dalam mengeksploitasi orang lain
Perbedaan Sosial Tidak dapat dihindarkan ddalam susunan masyarakat yang kompleks. Terutama disebabkan perbedaan kontribusi dari kelompok-kelompok yang berbeda Tidak perlu dan tidak adil. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. Dapat dihindarkan dengan jalan penyusunan kembali masyarakat secara sosialistis
Perubahan Sosial Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus berubah Dipaksakan oleh suatu kelas terhadap kelas yang lainnya untuk kepentingan kelas pemaksa
Tata tertib sosial Hasil usaha tidak sadar orang-orang untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan mereka secara produktif Dihasilkan dan dipertahankan oleh pemaksa yang terorganisasi oleh kelas-kelas yang dominan
Nilai-nilai Konsensus atas nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. Khayalan (ilusi) consensus nilai-nilai dipertahankan oleh nilai-nilai yang dominan
Lembaga-lembaga sosial Menanamkan nilai-nilai umum dan kesetian yang mempersatukan masyarakat Menanamkan nilai-nilai dan kesetian yang melindungi golongan yang mendapat hak-hak istimewa
Hukum dan Pemerintahan Menjalankan peraturan yang mencerminkan consensus nilai-nilai masyarakat Menjalankan peraturan yang dipaksakana oleh kelas yang dominan untuk melindungi hak-hak istimewa

Berbagai perspektif digunakan dalam sosiologi. Masing-masing memandang masyarakat dari persepsi yang berbeda. Namun, pada dasarnya setiap perspektif sampai tingkat tertentu digunakan oleh kebanyakan sosiolog dan diperlukan untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh tentang suatu masyarakat.

Universitas Alam, September 2011

Hera HM

Sumber Bacaan;

James M. Henslin. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt. 1999. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

About these ads

Comments on: "PERSPEKTIF SOSIOLOGI" (2)

  1. maaf,, mohon bantuannya kalau pengertian persepektif kritis apa ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: